Recent Post

tidak semua orang itu baik

tidak semua orang itu baik
Siang itu, panas membakar di luar. Saya sedang membuka mailbox seperti biasa ketika mata saya menangkap sebuah e-mail dari rekan sekerja dengan judul ''urgen sekali'' . Dahi saya berkerut. Ada apa dengan mengirim email. Kenapa bukan ngomong langsung? Segera saya membuka dan membaca e-mail itu.

Isinya pendek..... tadinya mau bicara empat mata sama kamu, tapi tidak ada kesempatan, saya baru saja mendengar berita dari seorang pegawai, katanya di kantor kita tersebar desas desus. Kalau kamu menerima duit dari klien sebesar 10 juta rupiah. Saya tidak percaya, tapi mohon perhatian khusus kamu karena desas desus tersebut juga menyebut aktivitas kamu sebagai aktivis mushala kantor.

Saya tertegun sejenak. Saya shock. Selama bekerja, saya selalu berusaha untuk bersih dari urusan suap dan sejenisnya. Memang di tempat saya bekerja, suap menyuap adalah sesuatu yang membudaya dan di anggap sah oleh sebagian besar karyawan. Saya sendiri beberapa hali berhadapan dengan klien yang mencoba menyuap. Namun selama ini saya selalu menolak dan mengembalikan pemberian dari para klien. Akan tetapi mengapa saya bisa mendapat fitnah seperti ini? Mana di kaitkan dengan aktifitas sata sebagai pengurus mushala lagi. Dari mana sumbernya, ya allah, fitnah apa ini? Tanpa terasa air mata membanjiri pipi saya,

Saya harus mengklarifikasi berita ini. Saya harus meluruskanya. Benak saya langsung berputar , merangkai langkah yang hendak saya ambil untuk emncari penyebab beredarnya desas desus itu dan menyelesaikanya.

Pertama tama saya menanyai rekan kerja yang mengirim email tersebut, seperti apa berita yang dia dengar.

''katanya kamu menerima uang sepuluh juta rupiah. Orang yang menyebar berita itu katanya punya bukti tanda terima cek. Katanya juga orang tua kamu sedang sakit dan butuh biaya bla bla bla'' jelasnya panjang lebar.

Saya setengah sedih setengah pengen tertawa mendengarnya. Dari mana orang tersebut bisa mengarang berita seperti itu? ''orang tua saya tidak sakit dan saya tidak pernah menerima cek. Beritahu saya siapa yang menyampaikan berita itu ke kamu biar saya lacak!'' pinta saya.
'' wah maaf dia meminta saya untuk merahasiakan identitasnya'' jawabnya.

Saya kehabisan kata '' katakan padanya , kalau pemilik butki itu mau menuntut , saya bersedia berurusan sampai ke pengadilan untuk membuktikan bahwa saya tidak pernah menerima suap itu'' tantang saya emosi.

Malamnya saya tidka bisa tidur memikirkan desas desus itu tiba tiba ingatan saya melayang pada sebuah cerpen yang saya buat . Cerpen itu bercerita tentang seorang perempuan muslimah yang bimbang menyikapi uang sepuluh juta yang diberikan klien untuk dia. Di tenga perang batinya, dia mendapat kabar bahwa orang tuanya di kampung sedang sakit dan kakak iparnya melahirkan lewat operasi caesar keduanya butuh biaya dan di minta pulang secepatnya. Kekalutanya akhirnya mengalahkan prinsipnya sehingga uang itu ia gunakan, sekalipun kemudian dia menyesali dan bertekad untuk mengembalikanya.

Mengingat cerpen itu saya mencoba menarik benang merahnya. Mungkinkah fitnah itu berawal dari cerpen yang saya buat? Saya memang menuliskan cerpen cerpen saya di kantor. Di sela sela pekerjaan. Kadang kadang file cerpen itu saya biarkan dalam kondisis terbuka di layar komputer, sementara saya menghadap atasan atau mengerjakan tugas lainya. Barangkali itu penyebabnya? Akan tetapi masak sih ada orang yang tega dan dengan sengaja memfitnah orang lain hanya karena membaca cerpen? Selama ini saya selalu beranggapan bahwa semua orang di sekeliling saya adalah baik. Jika ada satu atau dua yang berbuat tidak benar atau tidak baik kepada orang lain , saya selalu yakin bukan karena kesengajaan, tetapi karena perangai yang bersangkutan

Kesesokan harinya saya menceritakan tentang cerpen tersebut kepada rekan yang menyampaikan deas desus itu kepada saya. diapun sependapat, ada kemungkinan penyebar fitnah itu adalah orang yang tidak suka dengan aktifitas saya di mushala dan mencari cari jalan untuk mendiskreditkan saya. Mungkin saja suatu waktu dia perna menyebar deas desus itu. Kemudian kami sepakat untuk mengabaikanya. Akhirnya berita itu hilang dengan sendirinya,

Namun saya belajar dari peristiwa itu untuk tidak ceroboh mebiarkan file file komputer saya termasuk cerpen cerpen tulisan, terbuka dan terbaca oleh sembarag orang. Berabe? Juga belajar bahwa tidak semua orang di dunia ini baik sehingga kita harus berhati hati dan pandai pandai menempatkan diri , serta berusaha tidak gerabah meletakkan sesuatu yang menimbulkan interprestasi bagi orang lain.
(azimah rahayu)